watch sexy videos at nza-vids!

mau sharing cerita aja.. ini sekitar 6 bulanan lalu sih.. di kantorku rata-rata karyawannya cewek dan memang sebagian besar udah pada punya suami rata-rata, nah ada temen kantor (beda divisi denganku) yang anaknya asik, walaupun udah punya anak 2, tapi ngobrol sama dia seru banget.. Gara-gara sering ketemuan sama rekan kantor ini, sering ngobrol sama dia, sering liat-liatan, aku pun betah kareandadanya menggoda. jadi awalnya iseng-iseng aja nyerempet dia ngomongin hal-hal yang menjurus.. eh dia juga ternyata seru juga ngomongin hal-hal yang “menjurus”.. akhirnya diputuskanlah suatu hari aku iseng becandain dia, mau ga anuanuan.gif di kantor.. eh dia malahan nantangin “kencingnya udah lurus belom? coba sini liat t*t*tnya”.. ane anggap itu kode sebagai jawaban OK.. akhirnya aku desek di YM beneran mau ML apa ngga. dan ternyata dia memang beneran mau…. akhirnya hari itu selesai office hour, naeklah kita ke lantai 26(kantor aku kalo udah diatas udah jam 8, udah gelap, jadi sikon pun mendukung), , (aku di lantai 25, dia di lantai 26), soalnya memang dia yang megang kunci ruangan di lantai 26. kita b2 masuk ruang meeting dan “bertarung” di ruang yang gelap itu. awalnya kissing-kissing sama dia smile.gif , wuh.. lidahnya mantab.. lidah aku dipagut-pagut sama berasa ngilu. susah diungkapkan dengan kata-kata (secara jam terbang doi lebih tinggi dari ane). terus dia penasaran sama burung aku, jadi sembari kissing, dia buka resleting aku dan ngeluarin burung dia sambil di HJ pelan-pelan..di sela-sela kita kissing, dia bilang kalo burung aku lebih gede dari suaminya Blush.gif … wah, makin konak.gif aja. langsung baju kantor dia aku buka.. lepas Bra doi, dia remes-remes toket dia yang gede, cuma memang agak turun (tapi aku memang suka sama toket yang gede dan agak ngondoi dikit), aku sempet muji besarnya toket dia dan nanya ukurannya, dia bilang 36C, terus dia nanya “kenapa? sukanya sama yang kecil ya?” tanya dia.. tentu aja ane geleng-geleng kepala dan jawab dengan hisapan-hisapan di toket dia yang pastinya bikin dia mendesah-desah.. aku remes, aku hisap, aku gigit nipplenya.. enak banget.. udah mana nipplenya gede. berasa kaya bayi versi dewasa lagi.. Laughing.gif ga lama dari maen sekwilda. aku telentangin dia di atas meja meeting, aku oral vaginanya.. aku ga bisa liat jelas bentuk vagina dia karena gelap dan hanya ada sedikit cahaya, tapi bulu mekinya sih ga gitu banyak dan untuk ukuran wanita yang udah 2 kali melahirkan dia tergolong ok banget vaginanya.. yang pasti ga bau ikan asin ya! thumbsup_anim.gif aku jilat2 tuh meki sampe basah, sampe kadang-kadang dia ga bisa ngomong, cuma bisa “ah-ah-yes-yes” , sekitar 15 menit aku oral dia akhirnya dia dapet orgasme, selesai dari situ, gantian burung aku yang diservis.. dia dorong aku duduk di kursi meeting, aku disuruh ngengkang supaya dia bisa jilat sunhole aku, buset.. baru pertama kali aku seumur hidup diisep “sunholenya” rasanya mantab banget…terus dijilat2 “G-spot” aku, naek terus ke buah zakar aku, terus ke batang dan akhirnya ke kepala penis aku.. buset..sensasinya.. pertama kali aku burung aku di”servis” begitu. doi juga ngoral burung aku ganas banget, soalnya dia suka sama diameter burung aku yang lebih gede dari suaminya dia.. selesai di BJ, kita masuk ke posisi doggy style, soalnya doi suka banget sama gaya itu, dan minta aku maenin nipplenya sembari doggy style. kita doggy style sekitar 15 menitan, terus ganti posisi MOT diatas meja meeting sekitar 20 menitan, kemudian karena dia udah sange banget, dia minta WOT, aku mah cuma diem aja nikmatin goyangan dia.. ga lama kemudian dia dapet big O, karena aku belom dapet O, sedangkan aku udah mau keluar bentar lagi.. berhubung dia ga pake kondom dan aku ga mau keluarin didalem (ntar hamil lagi), aku minta doi supaya BJ lagi dan aku minta CIM, dia setuju banget.. diisep-isep lagi.. keluar deh semua laharnya.. enak banget.. dia bersihin semuanya sampe bersih.. tapi t*t*t masih berasa keras, ngeliat t*t*tnya belom turun, dia masih napsu makan “pisang” aku lagi.. ya udah ronde dua deh.. lagi enak-enak di BJ sama doi…eh hape dia nyala (pake mode silent)..ternyata dari suaminya, katanya bentar lagi nyampe kantor.. langsung deh dia BJ-in versi fast forward..langsung CIM lagi… selesai ML, beres-beres, aku nanya ke dia, boleh minta foto nakednya ga? Whew.gif dia ga mau, soalnya takut keliatan mukanya, ntar ketawan keluarganya… ya udah..karena aku suka banget sama teteknya, aku minta foto toked.gif aja.. biar bisa buat bahan masturbate… eh dia ngasih. HeHe.gif lumayan Sejak dari situ.. lumayan sering kita be2 ML di kantor di tempat yang sama. joged.gif .. ada sekitar 10-15 kali aku ML sama dia.. dan udah ada video-video pribadi sama dia, tapi ga mungkin aku sebar ya… ga enak sama keluarganye.. tapi sekarang udah agak susah ML sama dia, soalnya aku dipindah ke proyek laen.. tapi denger-denger pertengahan tahun depan dia mau ikutan di pindahin ke proyek aku.. happy.gif ga sabar dia pindah, biar bisa spooring and balancing lagi.. nanti kalo dia beneran dipindah.. mudah2an ada lanjutannya.. sekian, terimakasih. review ane setelah 10-15x ML sama dia : Face : 7.5/10 Boobs : 36C, agak ngondoi tapi ane sih suka bro.nipplenya juga gede. (ya secara udah punya anak 2..ane sih suka) HJ : 6/10 BJ : 9/10 WOT : 10/10 ane kasih foto toket dia aja ya.. enjoy..

udah cukup absolutist Ratih menunggu Tom. Setengah jam lebih. Sebelum akhirnya Tom tiba dan datang menemui Ratih yang sedang duduk di sofa, di lounge sebuah auberge bintang lima di kota Jakarta. Mereka akan mendiskusikan masalah account tahunan dari bagian Treasury yang harus dikerjakan Ratih. Seperti diketahui, Tom atau nama panjangnya Tommy Hudson yang berkebangsaan Inggris adalah Treasury Head dan Ratih adalah Assemblage Manager pada bagian Treasury sebuah Cabang Bank Asing di Jakarta. Agar lebih santai mereka bersepakat untuk bertemu setelah jam kantor di auberge tersebut untuk mendiskusikan masalah account tersebut.

Tom muncul dengan penampilan yang absorbing abscessed itu, membuat Ratih agak terpesona. Tom mengenakan kemeja favoritnya. Penampilan Tom abscessed ini benar-benar membuat Ratih menilainya lebih dari orang-orang yang lalu lalang di depan situ sepanjang abscessed ini. Tom tersenyum menyapa Ratih, mereka berjabat tangan seperti umumnya dua orang profesional yang akan membicarakan masalah bisnis. Tom duduk di depan Ratih, lalu setelah sedikit berbasa-basi, mereka membuka map masing-masing dan mulai membicarakan angka-angka. Tom benar-benar menguasai bidangnya, sehingga sejujurnya Ratih perlu berpikir keras untuk bisa mengimbanginya dan mencari celah-celah yang bisa menguntungkan assemblage yang dipimpin Ratih dalam hal pengalokasian biaya.

Namun sepanjang pembicaraan, Ratih sering memergoki mata Tom tidak selalu menatap kertas-kertas kerja mereka. Pandangan Tom sering mengarah ke tempat-tempat lain di tubuh Ratih. (Sekedar informasi agar pembaca lebih mudah menghayati cerita ini, Ratih memiliki tinggi badan 156 cm, berat badan 49 kg, bentuk badan slender, tidak serba mungil, rambut pendek seleher, dengan wajah blasteran Cina-Jepang, Ratih juga mengenakan kacamata minus). Abscessed itu Ratih mengenakan blazer biru muda dan rok mini dengan warna yang sama. Di balik blazer itu, Ratih mengenakan kaos ketat berwarna kuning, yang membuat kecerahan warna kulitnya lebih menonjol.

Ratih sering memergoki pandangan Tom mengarah ke paha dan tungkainya yang putih mulus itu. Kadang-kadang mata nakalnya yang genit itu juga sering terarah pada leher dan kaos Ratih yang mungkin memang cukup ketat, meski masih tertutup blazer. Pada satu saat, pandangan mata mereka bertemu. Ratih mengerutkan dahi dan Tom malah tersenyum nakal.

“Kok kayaknya kita tidak terlalu serius membicarakan ini?”, tanya Ratih.

“Agak sulit untuk serius dengan kondisi seperti ini”, jawab Tom sambil terus menatap ke dalam mata Ratih.

“Yah…, lantas kita mesti gimana?”, tanya Ratih lagi.

“Mungkin kita tunda sampai besok pagi, sekarang sudah di luar jam kerja kan?”, jawab Tom enteng.

“Baik.., ide bagus, kalau begitu kita pulang saja”, jawab Ratih sambil mengemasi kertas-kertas kerjanya dari meja kecil itu.

“Atau mungkin bisa kita bicarakan secara agak santai sambil makan malam?”, ajak Tom.

Ratih sempat terpikir akan apa yang ada di otak Tom waktu itu, namun demi karirnya, Ratih memilih untuk membuang pikiran itu jauh-jauh. Namun Tom tersenyum manis sambil mengangkat bahu.

“Gimana?”, tanyanya sambil tetap menyunggingkan senyum, memancarkan daya tariknya.

“Hm…, terserahlah”, akhirnya jawab Ratih setelah cukup absolutist menimbang-nimbang.

Tom mengajak Ratih untuk naik ke mobilnya. Mobil kantor yang selama ini dipakainya sehari-hari. Ratih menyukai suasana di dalamnya. Benar-benar menggambarkan kepribadian Tom, kepribadian khas seorang pria yang berasal dari Inggris. Ratih memandangi sudut-sudutnya, dan mengagumi selera Tom. Sepanjang jalan, mereka tidak banyak berbicara. Ratih mengamati Tom yang sedang memegang kemudi. Wajah, tubuh, otot-otot dan cara Tom berpakaian, hmm…, sangat mengesankan. Ups! Ratih buru-buru memandang ke depan ketika Tom tiba-tiba menengok ke arahnya. Dari sudut mata, Ratih dapat melihat bahwa Tom tersenyum nakal karena memergoki Ratih mencuri pandang ke arah Tom. Dan naluri pria Tom mengetahui bahwa Ratih sedang mengaguminya. Lalu Tom kembali memandang ke jalan sambil tersenyum puas merasa menang.

Setelah mereka tiba di sebuah auberge berbintang tiga yang terkenal akan restorannya yang baik, mereka turun dari mobil. Tom membukakan pintu untuk Ratih. Entah sengaja atau tidak, mereka bertabrakan. Dada Ratih bersentuhan dengan lengan Tom, dan mereka masing-masing bukan tidak tahu itu. Ratih mencoba untuk tetap air-conditioned namun Tom tersenyum, seolah-olah tahu bahwa kedua putik di ujung dada Ratih sedang agak menegang karena bersentuhan dengan lengannya tadi. Lalu mereka berjalan masuk.

“Hm, apakah kita makan di Coffee Shop atau memesan allowance account saja?”, tanya Tom ketika mereka memasuki lobby.

Sejujurnya, Ratih menyukai cara pendekatan Tom yang bendable namun terarah itu. Tanpa banyak berpikir, Ratih hanya menjawab singkat, “Terserah kamu saja”. Ratih mengucapkan kalimat itu sambil melirik ke mata Tom dan sedikit menyipitkan mata, memberi tanda setuju dengan apa yang Tom pikirkan. Lagi-lagi Tom tersenyum nakal menggemaskan.

Lalu Tom segera mendatangi meja resepsionis untuk check-in. Kamar yang mereka tempati tidak terlalu luas, meski cukup mewah untuk ukuran auberge berbintang tiga. Sebuah ranjang baron admeasurement tertata rapi menghadap ke set televisi. Dinding di belakang set televisi itu dilapisi oleh cermin sepenuh tembok, sehingga ruangan itu terkesan lebih luas. Secara refleks, Ratih melirik ke cermin itu, dan merapikan poni di dahinya serta membetulkan letak kacamatanya dengan jari tengah. Tom melemparkan tubuh tegapnya ke ranjang dan mengamati Ratih yang sedang bercermin.

“Kamu mau pesan apa?”, tanya Tom sambil mengangkat gagang telepon di meja kecil di samping ranjang.

“Apa kamu mau langsung makan?”, jawab Ratih sambil memandangnya dari cermin.

Tom terdiam karena tidak mengharapkan reaksi Ratih yang begitu direct. Ratih membalikkan tubuhnya dan menatap ke mata Tom. Dengan pelahan Ratih membuka satu persatu kancing blazernya, sambil melangkah mendekati ranjang. Setelah semua kancing blazernya terbuka, Ratih menaikkan lutut kirinya ke atas ranjang, dan menurunkan blazernya hingga kedua bahunya terlihat karena kaosnya yang sangat ketat itu berpotongan tanpa lengan. Mata Ratih menatap ke arah Tom sambil sedikit menyipit.

Secara refleks, Tom mulai membuka satu-persatu kancing kemejanya, sedikit demi sedikit menampakkan dadanya yang bidang, tegap menggairahkan. Lalu dengan gerakan yang amat cepat, Tom melepaskan kemejanya dan melemparkannya ke samping, lalu bangkit dan menabrak tubuh Ratih, memeluk, dan menghujankan ciuman-ciuman hangat ke leher dan rahang Ratih. Ratih menengadahkan kepala menikmati ciuman Tom yang hangat dan bertubi-tubi itu. Tom menarik lepas blazer Ratih dan melemparkannya ke sudut ruangan, tangan Tom juga menarik kaos Ratih ke atas dan melepaskannya dari tubuh Ratih yang mulai berkeringat. Lalu Tom menarik Ratih hingga kini rebah telentang di ranjang besar itu.

Ratih menyukai cara Tom itu, dan dia begitu menikmatinya. Ratih hanya telentang di ranjang itu dan pasrah sepenuhnya pada Tom. Menatap Tom yang kini sedang berdiri di dekat ranjang sambil mengawasi tubuh Ratih yang telentang dengan hanya bra putih dan rok mini yang agak tersingkap ke atas. Ratih memandang Tom dengan setengah terpejam dan jari-jarinya bergerak ke bibir Ratih, merabanya, dan turun pelan-pelan ke leher, ke dada, mengait bagian leher kaosnya dan menariknya sedikit. Tangan Ratih yang lain bergerak mengusap pinggangnya, bergerak ke tengah dan berhenti di bawah gesper sabuknya. Tom segera bereaksi, naik ke ranjang dan mulutnya mulai menjelajahi wajah Ratih. Tangan Ratih bergerak untuk melepaskan kacamatanya, Tom menggerakkan hidungnya menelusuri telinga kiri Ratih, menurun ke leher Ratih.

“Aduuuhh…, aahh…, ssshh”, Ratih kegelian hingga agak menggelinjang dan mengangkat bahu kirinya yang segera dijilati oleh Tom. Hangat dan lembabnya lidah Tom terasa begitu nikmat, membuat Ratih kian pasrah saja. Tom menarik tali bra Ratih ke bawah agar lidahnya lebih leluasa menjilati pundak Ratih yang halus mulus, bulu kuduk Ratih berdiri semakin tegak merasakan itu semua. Tom semakin bergairah, kedua tangannya membuka kaitan bra Ratih yang ada di bagian depan. Dan terlihatlah olehnya kedua bukit payudara Ratih yang tidak terlalu besar, namun kencang berwarna kuning cerah. Di puncaknya terdapat dua tonjolan kecil merah jambu yang dikelilingi lingkaran coklat muda.

Untuk beberapa detik Tom terdiam menyaksikannya. Ratih hanya dapat menatapnya dengan pandangan meminta, menatap tegapnya tubuh Tom inci demi inci dan membayangkannya melekat, menyatu dengan tubuhnya. Dengan mata yang terfokus pada wajah Ratih, kedua tangan Tom mulai bergerak menyentuh kedua payudara Ratih, mengusap, meraba dan meremasnya dengan lembut. Jari-jari Tom dengan halus bergerak-gerak di atasnya, melingkar-lingkar tanpa menyentuh putingnya. Ratih makin menyipitkan matanya dan memandang mata Tom dengan memelas.

“Aughh.., aughh”, Ratih merintih lirih. Tom menanggapinya dengan cara meletakkan bibirnya melingkupi puting kiri Ratih. Membuat Ratih agak terhenyak dan menggeliat keras, namun kedua lengan Tom memeluk pinggang Ratih dan menahannya bergerak lebih jauh. Kini mulut Tom dengan pelahan namun tegas segera memainkan puting kiri Ratih. Lidahnya mengait-ngaitnya, bibirnya mengisap-isapnya.

“Ngghh…, aahh…, Tooomm”, Ratih merintih lirih sambil menyebut nama Tom. Mulut Tom menarik puting kiri Ratih dan membiarkannya terlepas. Tom dapat melihatnya menjadi bersemu merah dan tegak mengacung ke depan. Puas dengan karyanya itu, Tom beralih ke puting kanan Ratih, menciumnya dan menggigitnya dengan lembut dan perlahan-lahan.

“Akhh…, hhmm”, Ratih kembali mengerang-ngerang ketika merasakan puting kanannya mendapat jilatan dan isapan Tom, sementara puting kirinya yang telah membengkak itu berada di antara telunjuk dan ibu jari Tom yang memilin-milinnya pelan. Kedua alis mata Ratih seperti menyatu di tengah keningnya yang mengerut, kedua matanya terpejam rapat, gigi Ratih terkatup namun bibirnya setengah terbuka, mendesah dan mengerang menahan rasa geli bercampur nikmat yang datang bertubi-tubi pada bagian badannya yang batten sensitif itu. Tom mulai merasakan betapa puting kanan Ratih mulai menegang dan mengeras di dalam mulutnya yang dengan rakus mengisap-isapnya. Rintihan dan erangan Ratih terdengar memenuhi ruangan.

Tiba-tiba Tom menarik tubuh Ratih hingga terduduk. Tom duduk di belakang tubuh Ratih sambil mulutnya menjilati bahu dan leher Ratih yang halus. Ibu jari tangan kanan Tom menjentik-jentik puting kanan Ratih sementara telunjuknya bermain di puting kiri Ratih, membuat Ratih kian tak mampu menahan birahi. Apalagi ketika tangan kiri Tom menarik rok mini Ratih ke atas, lalu menyelip di balik celana dalamnya. Dengan segera telunjuk kiri Tom menemukan bibir kewanitaan Ratih yang telah lembab, lalu jari nakal Tom itu bergerak seperti mencungkil-cungkil, menggosok bibir kewanitaan Ratih, dan menjentik-jentik tonjolan kecil di atasnya. Ratih menggeliat-geliat tak karuan menahan semuanya. Rasanya sulit untuk bernafas. Mata Ratih terbuka sedikit, dan dari cermin di dinding itu Ratih bisa melihat betapa rakusnya Tom mempermainkan tubuhnya yang sudah hampir tanpa daya itu.

“Ohh…, aahh…, aduuuhh”, Ratih hanya bisa merintih sekenanya untuk bertahan dari serangan-serangan birahi Tom. Tanpa Ratih duga sebelumnya, jari tengah tangan kiri Tom menyusup masuk ke liang kewanitaannya, “Ehgggg….”, Ratih menjerit tertahan ketika merasakan sesuatu memasuki tubuhnya lewat tempat sensitif itu. Tom semakin buas, jarinya bergerak berputar-putar di dalam liang kewanitaan Ratih, sementara tangan kanan Tom terus meremas-remas payudara Ratih yang kini terasa ngilu namun nikmat.

Ratih menyandarkan kepalanya di dada Tom, tubuhnya bergetar tak kuat menahan birahi. Tangan Ratih bergerak ke atas dan memeluk leher Tom. Rupanya mereka sudah sama-sama menginginkannya, Tom segera menghempaskan tubuh Ratih hingga kembali telentang di ranjang. Dengan gerakan sigap Tom menyingkapkan rok mini Ratih, mengangkangkan kedua pahanya lebar-lebar, dan menyingkap celana dalam Ratih ke samping. Tangan Tom membimbing penisnya yang besar dan panjang itu menyentuh bibir vagina Ratih yang telah dibanjiri cairan pelumas, lalu dengan segenap kekuatan Tom menekan penisnya dalam-dalam.

“Aduhh…, aahh…, eeennngg…, ooooohh”, jerit Ratih ketika merasakan terobosan penis Tom ke dalam vaginanya. Tom segera menggerakkan tubuhnya dengan cepat maju mundur, membiarkan penisnya menggosok dinding vagina Ratih dengan kencang dan bertenaga. Kedua tangan Tom dengan gemas terus meremas payudara Ratih sambil memilin-milin putingnya. Ratih hanya bisa merintih dan mengerang keras-keras, kepala Ratih terlempar ke kiri dan kanan merasakan sodokan-sodokan penis Tom yang membuatnya lupa diri karena digempur kenikmatan yang begitu luar biasa. Gerakan-gerakan Tom kian cepat hingga tubuh Ratih terhentak-hentak. Matanya terpejam-pejam tak mampu menahan kenikmatan yang luar biasa ini. Kedua tangan Ratih mencengkeram bantal di bawah kepalanya.

“Aaduuhh…, enaakkk…, ssekaallii…, Toom”, Ratih benar-benar tak mampu menahannya lagi, terlalu nikmat. Ratih dapat merasakan dinding kewanitaannya kian licin karena cairan pelumas makin banyak membanjirinya. Namun di situ penis tetap dengan perkasanya mengikis dinding-dindingnya. Ratih meringis keenakan sementara Tom terus saja menghunjam-hunjamkan penisnya yang amat besar dan keras itu ke dalam vagina Ratih, sambil meremas kedua payudaranya dan menatap wajah Ratih yang kini berekspresi menahan nikmat. Ratih tak tahu bagaimana dengan Tom, namun Ratih benar-benar tak mampu lagi bertahan. Gelombang-gelombang kenikmatan terlalu buas menerpa tubuhnya yang kini tak berdaya. Otot-otot kewanitaannya terasa menegang berusaha menjepit kejantanan Tom yang terus saja bergerak keluar masuk.

Akhirnya, sesuatu terasa meledak di seluruh tubuh Ratih. Badannya melengkung, punggungnya terangkat dari ranjang. Untuk sesaat seluruh tubuhnya mengejang. Gigi Ratih bergemeretak menahan hantaman gelombang orgasme itu. Pandangannya seperti kabur dan semuanya tampak putih. Lalu kenikmatan yang begitu intens itu merenggut seluruh energinya. Ratihpun lunglai tak berdaya di tangan Tom. Kini tinggallah Tom yang dengan leluasa dan rileksnya membolak-balik tubuh Ratih. Setelah Tom menumpahkan semuanya ke dalam vagina Ratih, barulah dia berhenti. Lambat laun Ratih mulai pulih. Terlihatlah plafon kamar yang putih dan bertekstur. Seluruh ruangan pun mulai terlihat jelas. Namun kenikmatan itu belum hilang. Kenikmatan di seluruh tubuhnya yang baru saja Tom berikan.

Ratih menengok ke samping dan mendapati Tom terbaring di situ menatap wajah Ratih yang masih tampak kelelahan. Lalu mereka berdua berpelukan erat. Tubuh mereka terasa amat menghangatkan. Lalu mereka terbang ke alam mimpi.
TAMAT

TAMAT